Search Engine Optimization (SEO) Google yaitu pengoptimalan website agar mudah ditemukan di pencarian Google berdasarkan kata kunci yang diketikkan user di Google.
SEO itu sendiri cukup kompleks, sehingga sulit bagi kalangan awam untuk memahami satu persatu. Namun Kita bisa menjadikannya lebih simple lagi dengan 2 Hal yaitu:
Links & Content Management
Link, merencanakan, membuat & mengarsipkan link-link, baik itu backlink maupun internal linking. Tujuannya agar mempermudah Anda melakukan link building ataupun internal link.
Content, Merencanakan, membuat & mengarsipkan konten yang sudah jadi link. Tujuannya mempermudah Anda merencanakan konten berikutnya, konten gap dengan kompetitor ataupun keywords targetnya.
Lalu kesemuanya itu dibungkus oleh satu kesatuan “crawl rate” & “crawl budget” yang akan Saya coba jabarkan dalam artikel dibawah ini.
Saya coba jabarkan agar mudah difahami beserta alur flow dalam bentuk grapik simplenya.
2 Kunci Utama SEO
Kunci utama dari SEO adalah crawl rate & crawl budget. Crawl rate adalah seberapa sering bot mesin pencari merayapi (crawl) suatu website.
Sementara crawl budget adalah cara teknis agar bot Google merayapi suatu website lebih efisien. Dalam artian, jika memang tidak mau di crawl maka set disallow di file robots.txt, setting parameter dan sebagainya.
Karena jika crawl budget berantakan plus terdapat error sana sini di website, ditambah lagi banyak duplikat konten serta kekuatan server maka efeknya bisa buruk.
Dibawah ini Saya coba lampirkan gambaran singkatnya:

Faktor Crawl Rate:
On-Page
Dari onpage, yang menjadi sinyal utama adalah server update di website, penyebab update seperti: update / upload atau post konten baru, dan juga edit konten.
Semakin sering melakukan internal linking kehalaman lain dalam website sama dan related, makin bagus dan membuat crawl rate tinggi.
Off-Page
Dari sisi offpage adalah Link. Link dofollow untuk recrawl & rank, link nofollow sinyal domain & brand authority. Karena nofollow adalah sinyal Google bot untuk tidak mengikuti lagi link tersebut (tidak re-crawl).
Jika kita analogikan antara nofollow & dofollow sebagai berikut:
Nofollow: Saya mereferensikan Toko A ke teman tapi saya belum pernah beli disana (entah bagus atau tidak, coba aja, tapi gak jamin loh)
Dofollow: Saya mereferensikan Toko A ke teman dan saya menjamin bagus karena Saya sudah coba beli dan pelayanannya cakep.
Lalu apakah nofollow jadi tidak penting?
Owh tentu tetap penting. Nofollow menjadi referral trafik, spam filter (minimalisir terdetek spam), tingkatkan trust, brand & domain authority (ujung-ujungnya indikator, algo Google juga).
Dari analogi diatas kita ibaratkan:
Semakin banyak yang referensikan toko A, makin terkenal & terngiang-ngiang, makin penasaran ingin coba.
Jika terlalu sering orang merekomendasikan toko A terus tanpa ada alternatif lain, tentu malah curiga. Jangan-jangan mereka ini sales nya, keluarga, teman, buzzer nya Toko A (spam filter).
Dari penjelasan diatas, Saya rasa sudah cukup dimengerti. Sinyal On-Page & Off-Page tadi adalah indicator bagi bot Google untuk proses merayapi website.
Faktor Crawl Budget
Faktor ini lebih banyak ke teknis SEO Onsite keseluruhan, bagaimana pengaturan website file mulai dari file robots text (pintu gerbang Google Bot), sitemap xml, struktur situs dan sebagainya.
Intinya, secara garis besar, crawl budget adalah rambu-rambu, atau sebagai petunjuk bagi bot Google saat merayapi suatu situs web.
Lebih detail lagi faktor tersebut adalah:
- Jika ada duplikat konten, Title tag, meta description (bisa diaudit, Google search console tools) memperburuk crawl rate.
- Jika terlalu banyak error 404 not found & di internal linking bisa memperburuk crawl rate.
- Jika banyak update konten (termasuk image, video dll) tapi server hosting web tidak mumpuni bisa menyebabkan terjadi server error (bot bisa crawl sekian page perdetik). Itupun ditambah bot yang melakukan perayapan bukan Google saja, plus user juga.
- Jika akuisisi backlink baru banyak dan dofollow (re-crawl website), efeknya sama dengan nomor 3.
- Jika suatu halaman tidak mau di rayapi Google (crawl), tapi tidak di set di file robots text (Google tetap merayapi, bisa memperburuk juga. Apalagi semisal halaman login, dashboard dan lainnya.
- Jika konten halaman tidak mau di index (tapi boleh di crawl), tapi masuk dalam file sitemap xml bisa memperburuk crawl rate.
- Jika halaman tidak mau deindex (tapi boleh di crawl), tapi tidak dibuatkan meta noindex atau x-robots http header noindex. Bisa memperburuk crawl rate.
- Jika dinamis URL, parameter url (filtering, utm source) memiliki kesamaan title, meta tapi tidak di set canonical atau set parameter di search console bisa memperburuk crawl rate.
- Faktor eksternal lain seperti inject, hack, malware, negative SEO (backlink dofollow bombing), DDOS. Bisa memperburuk crawl rate.
Beberapa faktor diatas adalah Sebagian besar isu yang terjadi, perintilannya bisa lebih banyak lagi.
Pagespeed juga mempengaruhi, bukan dari sisi server saja tapi juga kecepatan halaman load, versi bots tentunya.
Apa saja faktor halaman lambat (selain server) versi Google bot? Jawabnya adalah susahnya Bot tersebut akses web aset seperti css, js yang sulit di render, faktor aplikasi / plugins cache juga.
Mungkin bisa baca-baca artikel sebelumnya tentang korelasi antara pagespeed dan mobile first indexing.
Apakah Jika Semua Bagus, SEO jadi Makyus?
Secara umum IYA, namun rekan bisa baca-baca lagi artikel terdahulu tentang “memahami cara kerja search engine“
Hasil crawling & indexing tidak serta merta langsung keluar hasilnya. Namun masuk ke database Google dulu dan proses sortir plus di compare ke situs-situs lain dengan tema / konten mirip / niche, pembahasan.
Proses tersebut berbarengan dengan algoritma yang sedang berlaku di mesin pencari Google.
Dari penjelasan Gambar diatas, itu hanya garis besarnya saja. Karena selain algoritma utama, ada banyak sekali algoritma pecahannya, konon 200 sinyal indikatornya.
Bayangkan 200 indikator!
10 indikator saja bisa menjadi ribuan jika dipecah, semisal 1 s/d 10 | 1 s/d 9 | 1 & 2 | 1 & 3 | 1 & 4 | 1 & 2 & 3 | 1 & 2 & 4 serta seterusnya….
Update algoritma Google pun sering dan acak (tuning persentase dari indikator-indikatornya).
Namun tidak perlu pusing dengan indicator tersebut, ambil garis besarnya saja dari penjelasan diatas, dan tetap selalu menyajikan yang terbaik bagi user maka sangat besar kemungkinan website SEO friendly.
Crawl Rate Tinggi, SEO Jadi Bagus?
Iya, ini sudah seperti sinyal pasti. Biasanya akan banyak keywords nangkring di halaman pertama Google.
Ketika tingkat perayapan website jadi tinggi, ada efek samping pastinya dan diantaranya adalah:
- Bandwidth hosting tinggi, jumlah data yang bisa dikirimkan website pada pengunjung pada periode tertentu.
- Beban server besar
- Mulai banyak error, duplikat dan lainnya jika tidak sering-sering di audit
Faktanya!
Ketika trafik organik mulai naik tinggi, pemilik website lupa kalau hostingnya mungkin tidak siap. Bahkan cuek saja, alhasil crawl rate turun lagi karena tersandung server respons lambat, muncul error 500 dan sebagainya.
Ketika asik link building terus, lupa kalau backlinks dofollow nya sama saja memanggil-manggil bot lagi agar di rayapi ulang, ibaratnya sinyal “Rayapin kita donks” dan balik lagi lupa kalau hostingnya ala kadarnya.
Begitu juga ketika dengar istilah pada artikel-artikel seo yang bertebaran di internet, yang berbunyi: “yang penting update konten sebanyak-banyaknya” padahal hostingnya mungkin paling rendah paketnya.
Makin sering di halaman pertama, makin terlihat. Termasuk juga orang-orang yang “susah lihat orang senang” Bisa saja mulai bermunculan artikel di copy paste.
Salam…






